Saturday, February 17, 2007

Perkebunan Gantikan Batu Bara

Senin, 15 Januari 2007 02:26:20


--------------------------------------------------------------------------------

Banjarmasin, BPost
Kalsel bertekad menggenjot sektor perkebunan untuk menggantikan sektor batu bara yang selama ini menjadi primadona ekspor dan penyumbang PAD terbesar untuk Pemprov Kalsel.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdangan (Disperindag) Kalsel, Drs Subardjo mengungkapkan, kendati nilai ekspor batu bara Kalsel masih tinggi, namun presentase kanaikan dari tahun-ke tahun sangat rendah.

Sebagaimana tahun 2005, volume batu bara yang dihasilkan mencapai 50,928 juta ton lebih dengan nilai 1.587 miliar dolar AS lebih dan 2006 sebanyak 54.381 juta ton dengan nilai 1,629 miliar dolar AS, atau naik 2,68 persen.

Dengan persentase kenaikan yang sangat rendah ini menunjukkan ke depan batu bara sudah tidak bisa lagi dijadikan komoditi andalan ekspor, untuk menopang perekonomian Kalsel.

"Dari data, batu bara Kalsel yang sebelumnya bertahan hingga 100 tahun kini tinggal 25 tahun saja, maka mulai 2007 kita menggenjot perkebunan," katanya.

Untuk komoditi karet alam, tahun 2005 hanya 11.466 ribu ton lebih, dan 2006 naik menjadi 49.979 ribu ton lebih, naik 335,86 persen.

Selain karet, crude palm oil (CPO) atau minyak mentah sawit juga mengalami kenaikan ekspor yang sangat besar, tahun 2005 hanya Rp33,55 ton senilai Rp12,608 juta dolar AS, 2006 menjadi 77,98 ton dengan nilai Rp22.902 juta dolar AS.

Selain sektor perkebunan, sektor perikanan setiap tahunnya juga mengalami kenaikan, yaitu pada 2005 sebesar 1.166 ribu ton lebih, 2006 menjadi 2.687 ribu ton lebih, naik 130,33 persen.ant


--------------------------------------------------------------------------------



Copyright © 2003 Banjarmasin Post

Proyek Sawit Dikejar Waktu

Senin, 08 Januari 2007 00:49

Kandangan, BPost
Proyek penanaman kelapa sawit di dataran tinggi di Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) seluas 1.000 hektar dikebut. Pasalnya, pertengahan Januari nanti akan dilaksanakan penanaman puncak dihadiri tim dari pusat, bupati dan unsur Muspida setempat.

Menurut Plt Kadishutbun HSS, Ir Udi Prasetyo ditemui Minggu (7/1), berdasarkan pantauan terakhirnya, petani sedang mengerjakan penanaman sisa bibit yang belum tertanam.

Sebelumnya diberitakan BPost beberapa hari lalu, ratusan bibit kelapa sawit di berbagai titik di daerah Loksado dibiarkan telantar.

"Namun saat itu belum habis masa anggaran tahun 2006, artinya petani masih mengerjakan penanaman kelapa sawitnya," bantah Udi.

Namun ia mengakui ada kendala teknis di lapangan sehingga ada bibit kelapa sawit belum tertanam. Pertama, kedatangan bibit kelapa sawit yang diambil dari pusat penelitian kelapa sawit Medan Sumut ternyata melebihi kemampuan menanam petani.

"Setelah bibit didatangkan, petani harus membawanya lagi ke lokasi penanaman yang tentunya memakan waktu," ujar Udi.

Selain itu, sebagian bibit kelapa sawit memang sengaja dilebihkan sekitar lima hingga tujuh batang bibit per satu hektare dengan tujuan untuk tambal sulam serta mengatasi kemungkinan bibit mengalami mati di jalan saat pengiriman.

"Tinggal menunggu sisa yang belum ditanam saja seperti pantauan anda di lapangan beberapa waktu lalu," ujar Udi. ary

Copyright © 2003 Banjarmasin Post

Senin, 01 Januari 2007 01:23:25

 


BRI Biayai 60.000 Ha Sawit

Jakarta, BPost
Pada tahun 2007 PT Bank Rakyat Indonesia Tbk akan memulai program kredit pengembangan energi nabati dan revitalisasi perkebunan dengan menyalurkan pembiayaan senilai Rp2 triliun. Dana itu akan diberikan kepada 15.000 petani untuk pengembangan lahan kelapa sawit seluas 60.000 hektar.

Kredit tersebut akan disalurkan melalui 15 perusahaan inti sawit yang bertindak sebagai mitra dari bank pelaksana. Perusahaan tersebut juga bertindak sebagai penjamin kredit yang disalurkan kepada petani plasma.

"Kelima belas perusahaan tersebut merupakan perusahaan- perusahaan besar dan bonafide di industri kepala sawit. Mereka terdiri dari perusahaan BUMN dan swasta nasional. Perusahaan sawit asing tidak boleh mengikuti program ini mengingat bunga kreditnya disubsidi," kata Direktur BRI Sudaryanto Sudargo, Jumat (29/12).

Akan tetapi, Sudaryanto belum bersedia menjelaskan nama-nama perusahaan yang akan menerima kredit tersebut. Kredit diberikan untuk pengembangan lahan seluas maksimum 4 hektar per satu keluarga petani plasma.

Menurut Sudaryanto, jumlah perusahaan mitra yang berminat ikut program Kredit Pengembangan Energi Nabati dan Revitalisasi Perkebunan (KPEN-RP) akan terus bertambah.

Untuk tahun 2007, BRI menargetkan bisa menyalurkan KPEN-RP sebesar Rp 4 triliun. Untuk tahun-tahun selanjutnya sampai 2010, BRI akan konsisten menyalurkan KPEN-RP Rp3 triliun-Rp4 triliun per tahun.

Saat ini terdapat lima bank yang menyatakan komitmennya untuk menjadi bank pelaksana KPEN-RP. Selain BRI, ada juga Bank Mandiri, Bukopin, BPD Sumatera Utara, dan BPD Sumatera Barat.kcm


Copyright © 2003 Banjarmasin Post