Senin, 01 Januari 2007 01:23:15
Banjarmasin, BPost
Gubernur Kalsel H Rudy Ariffin berjanji mulai 2007 ini akan mempermudah izin bagi investor yang menanamkan modalnya di bidang perkebunan, baik yang sudah memiliki hak guna usaha (HGU) maupun izin bagi perusahaan yang baru membuka lahan.
Komitmen mempermudah izin tersebut, menurut Rudy saat ditemui Minggu (31/12) sebagai upaya untuk menyerap tenaga kerja yang banyak kehilangan pekerjaan akibat ambruknya industri perkayuan di daerah ini.
Selain izin, jelas dia, pemerintah juga akan mempermudah permodalan melalui revitalisasi dengan beberapa bank, seperti Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Negara Indonesia (BNI), Bank Mandiri dan Bank Pembangunan Daerah (BPD) Kalsel, dengan konsep plasma inti.
"Bukan hanya invetor yang memiliki HGU saja yang akan kita vasilitasi, tetapi juga investor baru yang ingin membuka lahan di Kalsel juga akan kita berikan perhatian," janjinya.
Menurut Rudy, awaL 2007 ini telah ada investor baru kelapa sawit yang siap menanam di beberapa kabupaten yang potensial untuk ditanami tanaman bahan baku minyak goreng ini.
Bahkan di Banua Enam, pada tahun ini juga akan didirikan kilang kelapa sawit, sehingga hasil perkebunan yang dibawa ke luar daerah dari Kalsel tidak berupa bahan mentah tapi setengah jadi.
Sementara untuk masyarakat, Pemprov Kalsel juga mendorong dengan memberikan bibit gratis diantaranya bibit karet kepada masyarakat, yang dananya diambilkan dari APBN maupun APBD.
Sedangkan bagi pemegang HGU yang hingga kini tidak memanfaatkan arealnya, akan segera dilakukan teguran hingga tiga kali, kalau ternyata masih membandel sesuai peraturan pemerintah berhak untuk mengambil alih lahan tersebut. "Kita akan paksa para pemegang HGU untuk segera melaksanakan investasinya," tegasnya.
Menurutnya, saat ini lahan di Kalsel, terutama lahan rawa mulai banyak dilirik investor, sehingga gubernur sangat yakin, sektor perkebunan di Kalsel ke depan mengalami kemajuan, terutama sektor perkebunan kelapa sawit dan karet.
"Kita akan tetap mendorong perusahaan kayu di Kalsel kembali bangkit, namun juga tetap mencarikan solusi bagi warga yang kehilangan pekerjaan dengan membuka kesempatan seluas-luasnya dibidang perkebunan," jelas Rudy Ariffin. ant
Copyright © 2003 Banjarmasin Post
Kumpulan kliping WALHI Kalsel yang bersumber dari media massa di Kalimantan Selatan dengan issue perkebunan besar.
Wednesday, January 10, 2007
Pengadaan Bibit Karet-Sawit Molor
Jumat, 29 Desember 2006 02:34
Pelaihari, BPost
Kalangan petani di Kabupaten Tanah Laut mulai gelisah, menyusul lambannya pasokan bibit. Padahal, tutup anggaran tahun 2006 tinggal menghitung hari. Namun proyek pengadaan bibit perkebunan nyaris belum terlaksana.
Ketua Komisi II DPRD Tala yang membidangi masalah ekonomi, Hardadi, meminta pihak Dinas Perkebunan Tala segera mengatasi masalah ini. Jika tidak, petani akan merugi karena telah mempersiapkan lahan, tenaga, dan waktu.
Dari penelurusannya di lapangan, keterlambatan pasokan terkait mekanisme tender yang tidak proporsional. Pemenang lelang ternyata bukan penangkar bibit. Mereka menjualnya ke Kalteng.
Pengurus Asosiasi Penangkar Bibit Perkebunan Tala Syamsul Bahri dikonfirmasi, membenarkan pihaknya memasok bibit ke Kalteng karena harganya lebih tinggi.
Bagaimana jika pihak proyek mengorder? "Kalau berani pasang harga setara, silakan. Proyek dari Kalteng membeli Rp3.500 per batang ambil di tempat. Apa mungkin pihak proyek di sini berani. Saya dengar anggarannya cuma Rp3.500 belum dipotong pajak dan lainnya," tukas Syamsul.
Kadis Perkebunan Tala HA Rahman Said mengaku kurang mengetahui karena pengadaan bibit itu proyek provinsi. Pihaknya hanya sebatas menopang bantuan saprodi berupa pupuk.
Pihaknya juga memberi bantuan bibit karet dan kelapa untuk lahan penanaman sebanyak 1.500 hektare.roy
Copyright © 2003 Banjarmasin Post
Pelaihari, BPost
Kalangan petani di Kabupaten Tanah Laut mulai gelisah, menyusul lambannya pasokan bibit. Padahal, tutup anggaran tahun 2006 tinggal menghitung hari. Namun proyek pengadaan bibit perkebunan nyaris belum terlaksana.
Ketua Komisi II DPRD Tala yang membidangi masalah ekonomi, Hardadi, meminta pihak Dinas Perkebunan Tala segera mengatasi masalah ini. Jika tidak, petani akan merugi karena telah mempersiapkan lahan, tenaga, dan waktu.
Dari penelurusannya di lapangan, keterlambatan pasokan terkait mekanisme tender yang tidak proporsional. Pemenang lelang ternyata bukan penangkar bibit. Mereka menjualnya ke Kalteng.
Pengurus Asosiasi Penangkar Bibit Perkebunan Tala Syamsul Bahri dikonfirmasi, membenarkan pihaknya memasok bibit ke Kalteng karena harganya lebih tinggi.
Bagaimana jika pihak proyek mengorder? "Kalau berani pasang harga setara, silakan. Proyek dari Kalteng membeli Rp3.500 per batang ambil di tempat. Apa mungkin pihak proyek di sini berani. Saya dengar anggarannya cuma Rp3.500 belum dipotong pajak dan lainnya," tukas Syamsul.
Kadis Perkebunan Tala HA Rahman Said mengaku kurang mengetahui karena pengadaan bibit itu proyek provinsi. Pihaknya hanya sebatas menopang bantuan saprodi berupa pupuk.
Pihaknya juga memberi bantuan bibit karet dan kelapa untuk lahan penanaman sebanyak 1.500 hektare.roy
Copyright © 2003 Banjarmasin Post
Limbah Sawit Bisa untuk Pupuk dan Bahan Bakar
Selasa, 09 Januari 2007
Pangkalan Bun, Kompas - Industri kelapa sawit memiliki produk sampingan yang dapat dimanfaatkan. Ampas inti sawit, misalnya, dapat digunakan sebagai pupuk. Limbah cangkang dan tandan kosong sawit juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar pembangkit listrik tenaga uap.
"Limbah kelapa sawit sudah dimanfaatkan oleh masing-masing pabrik pengolahan sawit. Namun, masih tersisa banyak," kata Presiden Direktur PT Astra Agro Lestari Tbk Maruli Gultom dalam peresmian proyek-proyek perusahaan tersebut di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, Senin (8/1).
Jika limbah sawit dijadikan bahan bakar utama proyek pembangkit tenaga listrik, hasilnya adalah daya listrik yang murah. Menurut Maruli, pasokan listrik juga menjadi lebih stabil karena bahan bakar limbah sawit terus tersedia.
Dalam acara tersebut, Gubernur Kalteng Teras Narang meresmikan proyek pengembangan pabrik kelapa sawit berkapasitas 60 ton tandan buah segar per jam, pabrik pengolahan inti sawit, dan fasilitas tangki timbun berdaya tampung 3.500 ton.
Selain itu, diresmikan pula kebun induk dan pengolahan benih sawit berkapasitas lima juta benih per tahun, pabrik mini biodiesel, dan instalasi pusat pelatihan. "Instalasi pabrik mini ini untuk menyiapkan produksi biodiesel berbahan baku jarak pagar dalam skala komersial," kata Maruli.
Saat ini Astra Agro Lestari sedang menguji coba penanaman jarak pagar di Kalimantan Timur. Jika kebun percobaan tersebut berhasil memproduksi delapan ton biji kering per hektar per tahun, akan segera dibangun kebun untuk memasok kebutuhan pabrik biodiesel berkapasitas 150.000 ton per tahun.
Maruli menambahkan, untuk mendirikan pabrik seperti itu di Kalteng, diperlukan lahan setidaknya 50.000 hektar.
Teras Narang menuturkan, baru sekitar 23,45 persen dari empat juta hektar lebih luas lahan yang dicadangkan untuk pengembangan perkebunan di Kalteng sudah dimanfaatkan.
"Dari 300 unit (perkebunan) yang terdaftar, baru 104 unit yang sudah operasional dengan plotting area sekitar 1,7 juta hektar," katanya.
Adapun 196 unit perkebunan besar lainnya dengan areal dicadangkan sekitar 2,8 juta hektar hingga saat ini belum memulai kegiatan investasi. (CAS)
Pangkalan Bun, Kompas - Industri kelapa sawit memiliki produk sampingan yang dapat dimanfaatkan. Ampas inti sawit, misalnya, dapat digunakan sebagai pupuk. Limbah cangkang dan tandan kosong sawit juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar pembangkit listrik tenaga uap.
"Limbah kelapa sawit sudah dimanfaatkan oleh masing-masing pabrik pengolahan sawit. Namun, masih tersisa banyak," kata Presiden Direktur PT Astra Agro Lestari Tbk Maruli Gultom dalam peresmian proyek-proyek perusahaan tersebut di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, Senin (8/1).
Jika limbah sawit dijadikan bahan bakar utama proyek pembangkit tenaga listrik, hasilnya adalah daya listrik yang murah. Menurut Maruli, pasokan listrik juga menjadi lebih stabil karena bahan bakar limbah sawit terus tersedia.
Dalam acara tersebut, Gubernur Kalteng Teras Narang meresmikan proyek pengembangan pabrik kelapa sawit berkapasitas 60 ton tandan buah segar per jam, pabrik pengolahan inti sawit, dan fasilitas tangki timbun berdaya tampung 3.500 ton.
Selain itu, diresmikan pula kebun induk dan pengolahan benih sawit berkapasitas lima juta benih per tahun, pabrik mini biodiesel, dan instalasi pusat pelatihan. "Instalasi pabrik mini ini untuk menyiapkan produksi biodiesel berbahan baku jarak pagar dalam skala komersial," kata Maruli.
Saat ini Astra Agro Lestari sedang menguji coba penanaman jarak pagar di Kalimantan Timur. Jika kebun percobaan tersebut berhasil memproduksi delapan ton biji kering per hektar per tahun, akan segera dibangun kebun untuk memasok kebutuhan pabrik biodiesel berkapasitas 150.000 ton per tahun.
Maruli menambahkan, untuk mendirikan pabrik seperti itu di Kalteng, diperlukan lahan setidaknya 50.000 hektar.
Teras Narang menuturkan, baru sekitar 23,45 persen dari empat juta hektar lebih luas lahan yang dicadangkan untuk pengembangan perkebunan di Kalteng sudah dimanfaatkan.
"Dari 300 unit (perkebunan) yang terdaftar, baru 104 unit yang sudah operasional dengan plotting area sekitar 1,7 juta hektar," katanya.
Adapun 196 unit perkebunan besar lainnya dengan areal dicadangkan sekitar 2,8 juta hektar hingga saat ini belum memulai kegiatan investasi. (CAS)
Subscribe to:
Posts (Atom)